SEJARAH PERKEMBANGAN SOSIOLOGI
Oleh:
Adam Tri Anggara
NPM 118090099
A.Pengertian sosiologi
Sosiologi
merupakan ilmu sosial yang mempelajari hal-hal tentang perilaku sosial yang
terjadi antara satu individu dengan individu lainnya, individu dengan kelompok,
serta kelompok dengan kelompok lainnya. Fitrah manusia sebagai makhluk sosial
memang membuat manusia tidak akan pernah jauh dari sebuah hubungan sosial,
karena setiap hubungan tersebut tentu akan mempengaruhi perilaku dari setiap
orang.
Ciri-ciri dari
sosiologi ini sendiri antara lain adalah:
·
Emperis, didasarkan pada pengamatan atau observasi serta akal
sehat yang mana memiliki hasil yang tidak bersifat menduga-duga.
·
Teoritis, selalu berusaha untuk menyusun abstraksi yang berasal
dari hasil observasi konkrit yang ada di lapangan. Abstraksi tersebut lah yang
menjadi kerangka dari unsur-unsur yang tersusun dengan logis serta
bertujuan untuk menjalankan hubungan sebab akibat yang kemudian menjadi teori.
·
Komulatif, disusun dengan teori dasar yang sudah ada sebelumnya.
Setelah itu dilakukan perbaikan dan diperluas sehingga nantinya dapat
memperkuat dari teori yang sudah lama.
·
Nonetis, pembahasan mengenai suatu masalah yang tidak
mempersoalkan baik ataupun buruk yang ada di dalam masalah tersebut namun lebih
memiliki tujuan menjelaskan masalah tersebut lebih mendalam.
Sebenarnya ilmu
sosiologi sudah mulai ada disaat jaman Yunani Kuno, para pemikir di jaman
tersebut seperti Plato, Sokrates, dan Aristoteles pada saat itu berpendapat
jika masyarakat terbentuk dengan begitu saja. Masyarakat mengalami perkembangan
serta kemunduran, dan tidak ada yang dapat mencegahnya. Kemakmuran serta krisis
yang terjadi di dalam masyarakat menjadi masalah yang tidak terelakkan lagi.
Anggapan tersebut terus diyakini hingga pada masa abad pertengahan. Para
pemikir seperti Agustinus, Avicenna, serta Thomas Aquinas mengatakan jika nasib
masyarakat tentunya harus diterima karena merupakan kehendak dan takdir dari
Pencipta. Sebagai manusia, diri kita sendiri tidak dapat mengetahui ataupun
menentukan apa saja yang akan terjadi di dalam masyarakat.
Pertanyaan-pertanyaan seputar perubahan masyarakat memang belum terpikirkan di
jaman tersebut.
Tokoh pertama
yang mengemukakan serta mencetuskan istilah dari sosiologi ini pertama kalinya
adalah AugusteComte (1798-1857) yang merupakan seorang filsuf Prancis, karena
hal ini lah beliau dikenal dengan sebutan sebagai Bapak Sosiologi. AugusteComte
sendiri membagi tiga tahap dari perkembangan intelektual, antara lain adalah:
·
Tahap
Teologi/Fiktif, yaitu tahapan dimana manusia menafsirkan segala gejala yang
ada di sekitarnya secara teologis dengan kekuatan yang dikendalikan Tuhan Yang
Maha Esa.
·
Tahap
Metafisika, yaitu tahapan dimana manusia menganggap jika setiap gejala
yang ada memiliki kekuatan yang nantinya dapat ditentukan. Misalnya saja,
cita-cita seseorang.
·
Tahap
Ilmu Pengetahuan Positif, yaitu merupakan tahapan akhir dari
perkembangan manusia yang mana memusatkan perhatian pada segala gejala yang
sifatnya nyata serta konkrit tanpa adanya halangan dari hal-hal lainnya.
Selain itu, Comte
juga membedakan antara sosiologi dinamis dengan sosiologi antis. Sosiologi
dinamis memiliki pusat perhatian pada perkembangan masyarakat yang di dalam
arti pembangunan. Sedangkan sosiologi antis memiliki pusat perhatian pada hukum
hukum yang statis yang dijadikan dasar adanya sebuah masyarakat.
Kemudian ada
Peter L.Berger yang menyatakan jika ilmu sosiologi sebenarnya berkembang di
dalam masyarakat ketika sedang menghadapi sebuah ancaman terhadap hal yang
dianggapnya benar dan nyata selama ini atau threatstothetakenforgrantedworld.
Tokoh sosiologi lainnya yaitu George Rotzer menyatakan jika sejumlah hal yang
dianggap menjadi pendorong dari pertumbuhan sosiologi antara lain adalah:
·
Revolusi politik yang terjadi di tahun 1776
·
Revolusi Industri di abad ke-18, munculnya sosialisme dan
kapitalisme.
·
Pertumbuhan ilmu pengetahuan
·
Urbanisasi secara besar-besaran
·
Perubahan di dalam bidang keagamaan.
Sejarah
perkembangan sosiologi, selain itu turut bermunculan pula lah ilmuwan-ilmuwan
lainnya dalam bidang ilmu sosiologi, misalnya saja Herbert Spencer, Pitrim A.
Sorokan, Max Weber dan Karl Max, C.H Cooley&Laster F. Ward, Emile Durkheim,
dan lainnya. Berikut ini beberapa ilmuwan yang cukup memiliki jasa besar dalam
ilmu sosiologi serta menyumbangkan beberapa pendekatan yang digunakan dalam
mempelajari masyarakat, sebagai berikut:
·
Herbert
Spencer, beliau memperkenalkan
tentang pendekatan analogi organik, yang mana merupakan pednekatan untuk
memahami masyarakat seakan tubuh manusia yaitu terdiri dari beberapa
bagian-bagian yang satu sama lainnya saling tergantung.
·
Karl
Marx, beliau memperkenalkan
mengenai pendekatan materialisme dialektis, yaitu pendekatan yang menganggap
jika konflik yang terjadi antar kelas sosial dapat menjadi intisari dari
perubahan serta perkembangan masyarakat. (baca juga:
·
Emile
Durkheim, beliau memperkenalkan mengenai pendekatan
fakta sosial, yang mana menganggap jika penelusuran fungsi dari berbagai elemen
sosial yang ada menjadi sebagai peningkatan serta memelihara keteraturan
sosial.
·
Max
Weber, beliau memperkenalkan pednekatan tindakan
sosial, yang mana berbentuk penelusuran terhadap nilai, tujuan, kepercayaan
serta sikap yang bisa menjadi penuntut perilaku masyarakat.
B.Kelahiran
Sosiologi Modern
Ilmu sosiologi
modern memiliki pertumbuhan yang sangat pesat, terutama di Negara Kanada dan
Amerika Serikat. Mengapa hal ini terjadi? Padahal kelahiran ilmu sosiologi
pertama kalinya berada di benua eropa? Hal ini dikarenakan pada awal abad
ke-20, terjadi gelombang imigran yang cukup besar yang datang ke Amerika Utara.
Akibat adanya gejala tersebut membuat pertumbuhan penduduk semakin pesat.
Pertumbuhan penduduk ini yang akhirnya menimbulkan beberapa hal seperti
hadirnya kota-kota industri baru, meningkatnya kriminalitas, serta hal-hal
lainnya. Konsekuensi sosialnya tentu saja terjadi perubahan yang cukup besar di
dalam masyarakat, sebagai berikut:
·
Perubahan masyarakat yang cukup besar inilah yang membuat
ilmuwan-ilmuwan sosial pada saat itu berpikir keras jika penggunaan pendekatan
ilmu sosiologi yang lama sudah tidak relevan lagi.
·
Sehingga membuat mereka berusaha untuk menemukan
pendekatan-pendekatan baru yang memang sesuai dengan kondisi masyarakat di kala
itu. Hal ini lah yang akhirnya memunculkan ilmu sosiologi modern.
·
Berbeda dari sebelumnya, pendekatan dari ilmu
sosiologi modern ini lebih cenderung mikro atau yang dikenal dengan
pendekatan empiris, yang mana perubahan yang terjadi di masyarakat
bisa mudah dipelajari dari fakta-fakta sosial yang hadir.
·
Berdasarkan fakta sosial tersebutlah dapat
diambil kesimpulan jika perubahan masyarakat terjadi secara menyeluruh. Sejak
saat itu, mulai timbulnya kesadaran mengenai pentingnya penelitian atau research dalam ilmu sosiologi.
Secara
etimologis, kata sosiologi sendiri berasal dari dua kata yaitu sociousyang berarti teman
sertalogos yang berarti kata, perkataan, pembicaraan. Sehingga
dapat disimpulkan sosiologi sendiri merupakan ilmu yang mempelajari khusus
mengenai cara bermasyarakat. Ilmu sosiologi ini kemudian makin berkembang di
abad ke19 di benua Eropa karena merupakan ilmu yang khusus mempelajari mengenai
masyarakat. Sehingga para ilmuwan Eropa juga merasa perlu mempelajari khusus
ilmu tersebut untuk mengetahui kondisi serta perubahan sosial yang ada di dalam
kalangan masyarakat Eropa pada saat itu. Namun tak hanya Eropa saja, ilmu
sosiologi ini juga berkembang di Indonesia.
Berikut ini beberapa tokoh-tokoh penting yang
bepengaruh dalam perkembangan ilmu sosiologi di Indonesia:
·
Sri
Paduka Mangkunegoro IV, beliau telah memasukkan unsur tata hubungan
pada manusia dari berbagai golongan yang berbeda ke dalam ajaran Wulang Reh. Di
dalam ajaran Wulang Reh yang ditulis langsung Sri Paduka Mangkunegoro IV
mengajarkan mengenai pola-pola hubungan yang terjadi di antara anggota
masyarakat Jawa meskipun dari berbagai kalangan serta kelas yang berbeda.
·
Ki
Hajar Dewantoro, ajaran serupa juga dapat ditemukan dalam ajaran yang dikemukakan
oleh Ki Hajar Dewantoro, yang dikenal sebagai peletak dasar dari pendidikan
Nasional yang ada di Indonesia. Tentang dasar-dasar dari kepemimpinan serta
keluarga yang sudah terangkum ke dalam konsep Ing ngarsa sung tuladha
Ing Madya mangun karsa Tut Wuri Handayani, yang mana berarti di depan bisa
memberikan contoh yang baik Di tengah memberikan semangat dan Di belakang
memberikan kekuatan atau dorongan. Hal ini lah yang secara tidak langsung
menjadi dasar dari konsep sosiologi yang ada di Indonesia. Selain itu beliau
pun juga sering mempraktekkan konsep-konsep penting dari sosiologi di dalam
proses pendidikan yang ada di dalam Perguruan Taman Siswa, sekolah yang
didirikannya tersebut.
Unsur-unsur
sosiologis lainnya juga ditemukan dalam karya-karya peneliti dari negara
lainnya yang ada sebelum kemerdekaan Indonesia seperti SnouckHurgronje,
Ter Har, Duyvendak, Van Valenhoven, dan masih banyak lainnya. Objek-objek dari
karya penelitian ini sendiri merupakan keadaan masyarakat yang ada di
Indonesia. Akan tetapi deskripsi dari sosiokultural pada masyarakat Indonesia
di saat itu hanya bersifat nonsosiologis, bukan ilmu yang berdiri sendiri.
Sehingga dapat dikatakan jika deskripsi mengenai kondisi sosiokultural
masyarakat Indonesia tersebut dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Namun
konsep dari ilmiah tersebut memang belum bisa menjadi ilmu yang bisa berdiri
sendiri hanya sebagai ilmu pembantu dari ilmu-ilmu lainnya. Sehingga sosiologi
di saat tersebut memang hanya bersifat komplementer.
Sosiologi
Masa Perjuangan Kemerdekaan
Sebelum masa
perang dunia II datang, di Indonesia sendiri hanya terdapat satu sekolah saja
yaitu sekolah tinggi hukum yang berada di Jakarta yaitu RechtsShogeSchool sebagai
lembaga di Indonesia yang memberikan pengajaran mata kuliah mengenai ilmu
sosiologi. Meskipun begitu, pengajaran mengenai ilmu sosiologi ini bukan
dijadikan sebagai ilmu yang berdiri sendiri, hanya sekedar mata kuliah
pelengkap di bidang hukum. Bahkan para pengajarnya sendiri pun bukan lah
orang-orang yang memang ahli secara khusus dalam bidang ilmu tersebut. Hal ini
dikarenakan memang belum adanya satu orang sarjana pun yang khusus membidangi
ilmu sosiologi ini. Selain itu, ilmu sosiologi yang diajarkan pun hanya masih
berupa filsafat serta teori-teori sosial, sebagai berikut:
·
Bahkan di rentang tahun 1934-1935, mata kuliah mengenai
sosiologi dihilangkan dalam lembaga pendidikan hukum.
·
Hal ini dikarenakan pendapat dari salah satu guru besar dalam
ilmu hukum yang menyatakan jika pengetahuan mengenai bentuk serta susunan
masyarakat dan proses-proses yang terjadi di dalam masyarakat tidak berkaitan
bahkan tidak dibutuhkan di dalam pendidikan hukum.
·
Menurut pandangan guru besar dalam bidang ilmu hukum saat itu
menyatakan jika hukum positif tidak lebih hanya sekedar peraturan-peraturan
yang berlaku sah di dalam suatu waktu dan tempat tertentu.
·
Sehingga yang paling penting di dalam sebuah pembelajaran hukum
hanyalah mengenai perumusan peraturan serta sistem yang digunakan untuk
menafsirnya.
C.Sosiologi
Setelah Masa Kemerdekaan Indonesia
Setelah masa proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17
agustus 1945, perkembangan sosiologi di Indonesia cukup mengalami kemajuan yang
pesat. Hal ini dapat terlihat dari pemberian mata kuliah sosiologi pertama
kalinya dalam bahasa Indonesia tepatnya di Akademi Ilmu Politik Yogyakarta
(yang saat ini menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM) di tahun 1948.
Apalagi sejak tahun 1950 dengan semakin terbukanya peluang bagi pelajar
Indonesia yang ingin menuntut ilmu ke luar negeri. Sehingga membuat banyak
pelajar Indonesia yang secara khusus mempelajari ilmu sosiologi dan kemudian
kembali ke Indonesia dan mengajarkan ilmu tersebut